Rabu, 12 Januari 2011

Tugas Soft Skill pert4

Social Network Business (SNB)

Pada artikel ini, saya akan mencoba membahas mengenai Social Network Business atau biasa disebut SNB yang dalam arti bahasa indonesiannya yaitu bisnis jejaring sosial. Pada zaman sekarang pasti diantara kita banyak sekali yang pernah menggunakan layanan ini dan tak di pungkiri lagi dengan menggunakan jasa layanan jejaring sosial ini banyak sekali membantu kita dalam hal berhubungan dengan dunia luar.

Analysis

Social Network Business yang apabila diartikan kedalam bahasa Indonesia yaitu Bisnis Jaringan Sosial yang artinya jaringan social yang digunakan untuk berbisnis. Banyak kita kenal berbagai jenis situ jejaringan social yang ada seperti Facebook, Twitter, MySpace, LinkedIn, dll.

Semula situs jejaringan social ini hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman kita dimana pun mereka berada, namun seiring dengan perkembangan jaman fungsi dari situs jejaringan social ini pun menjadi bertambah. Sekarang ini, banyak orang menggunakan situs jejaringan social ini untuk berbisnis,

Alasan mengapa Social Network Bisnis banyak digunakan oleh pebisnis:

1. Mudah dalam pemasaran suatu produk

2. Pemasaran barang jauh lebih cepat dan dapat menjangkau semua pihak, karena hampir semua orang menggunakan situs jejaringan social

3. Dalam mengupdate produk yang dipasarkan jauh lebih mudah dan lebih cepat.

4. Banyak tersedia layanan jejaringan social yang membantu dalam pemasaran produk

Dengan adanya Social Network Business para produsen dan konsumen-konsumennya bisa saling berinteraksi, bertukar pikiran, dan memberikan pendapat, masukan yang bisa mengembangkan dari bisnis itu sendiri. Jadi, jika ada kekurangan dari bisnis dapat diperbaiki sehingga para konsumen pun puas dengan pelayanan yang diberikan.

Selain itu juga dengan adanya Social Network Business, perusahaan harus berhati-hati pula memberikan informasi kepada konsumen atau rekan bisnis lainnya. Agar tidak terbocornya rahasia dari perusahaan itu sendiri yang bisa berakibat fatal.

Case Study

Contoh Social Network Business : LinkedIn

LinkedIn merupakan salah satu contoh social network business. LinkedIn sendiri memiliki link :

http://linkedin.com

Tampilan WebSite LinkedIn

LinkedIn adalah situs web jaringan sosial yang berorientasi bisnis, terutama digunakan untuk jaringan profesional. Sampai September 2007 situs ini memiliki lebih dari 14 juta pengguna terdaftar, meliputi 150 industri dan lebih dari 400 bidang ekonomi yang diklasifikasi menurut jasanya.

CEO LinkedIn saat ini adalah Dan Nye dan kantornya berlokasi di Mountain View, California. Perusahaan ini didanai oleh Greylock, Sequoia Capital, Bessemer Venture Partners, serta European Founders Fund. LinkedIn mulai meraih keuntungan (arus kas positif) sejak Maret 2006

Success Story

Jejaring sosial global untuk bisnis profesional itu didirikan pengusaha Silicon Valley Reid Hoffman pada Desember 2002. Pekan lalu, CEO LinkedIn Jeff Weiner mengumumkan anggota jejaring sosial itu telah mencapai 50 juta.

Padahal pada awalnya jejaring sosial itu perlu 16 bulan untuk mendapat 1 juta member pertama. Tapi kini satu juta member hanya perlu waktu 12 hari.
Memang jumlah member yang mencapai 50 juta, akan terlihat pudar jika dibandingkan Facebook yang memiliki 300 juta pasukan. Namun pencapaian 50 juta itu menjadi luar biasa apabila memperhitungkan hanya ada sekitar 360 juta orang-orang profesional kerah putih di seluruh dunia.

Jadi saat ini lebih dari 10% profesional sudah online di LinkedIn. Dengan jumlah anggota baru yang mendaftar setiap detik, setiap jam, setiap hari, maka tidak perlu waktu lama, 90% dunia profesional bisnis akhirnya tergabung di LinkedIn.

Lalu potensi apa yang bisa dihasilkan dari 50 juta profesional? Dan makna apa dari keberhasilan LinkedIn yang berhasil menarik profesional dari 200 negara?
Kevin Eyres Managing Director LinkedIn yang beroperasi Eropa mengatakan profesional sekarang bertanggung jawab pada karier mereka sendiri. Dalam resesi dunia saat ini, semua orang berpikir seperti seorang pengusaha.

"Masuk dalam LinkedIn memungkinkan mereka menjadi proaktif dalam membangun jaringan sendiri, mencari karyawan baru, membangun kembali karier, menampilkan kecakapan dan mungkin mendongkrak reputasi seseorang," katanya.

Berpikir seperti seorang pengusaha adalah sesuatu yang dilakukan oleh tim LinkedIn. Menurut Eyres, LinkedIn yang pada Juni tahun lalu mendapat US$ 53 juta modal ventura, saat ini telah mendapat keuntungkan dalam dua tahun terakhir.

Tidak seperti Facebook yang tergantung iklan, LinkedIn memiliki tiga aliran pendapatan yang setara. Langganan premium, perangkat lunak sebagai layanan dan iklan.
Bukan kebetulan, sukses LinkedIn terjadi di Belanda, Denmark dan bahkan India di mana bahasa Inggris secara luas digunakan. Tetapi di negara-negara Eropa di mana bahasa Inggris tidak lazim digunakan, LinkedIn kurang berhasil.

Sebab itulah mengapa LinkedIn meluncurkan situs berbahasa Jerman (Januari 2009), Prancis (November 2008) dan Spanyol (Agustus 2008) selama empat belas bulan terakhir.
Jadi, mengapa harus bergabung di LinkedIn? Apa yang akan dilakukan LinkedIn untuk mengajak sekitar 310 juta profesional yang masih belum mendaftar di layanan itu? "Anda tidak melakukan pekerjaan Anda dengan benar jika Anda tidak di dalamnya," jelas Eyres.
Ia mengatakan LinkedIn akan membuat membernya maju dan mendapatkan lebih banyak pengetahuan, dengan memungkinkan untuk menjangkau jaringan profesional yang berpikiran sama, serta memberikan akses ke lingkungan bisnis kolaboratif unik.

Masalahnya situs ini memiliki antarmuka yang kadang-kadang kikuk dan rumit, dan orang-orang bisnis bisa jadi akan menghindari LinkedIn. Tapi Eyres mengingatkan professional besar semacam Richard Branson dan Alan Sugar ada di dalamnya.

Referensi :

http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=121867704543224

http://id.wikipedia.org/wiki/LinkedIn

http://www.inilah.com/read/detail/175374/linkedin-kisahnya-kalahkah-facebook/

Jumat, 24 Desember 2010

Tugas Perbaikan UTS JarkomLan

Soal

Di dalam suatu jaringan perusahaan terdapat beberapa departemen bagian diantaranya :

HRD : 20 Host

FINANCE : 15 Host

IT : 12 Host

MARKETING : 25 Host

Network Address : 172.16.x.n (x adalah no absen )

Tentukan Subnetting IP ini menggunakan metode VLSM ??

Rumus = Jumlah host + host router + (broadcast +network)

Gateway = 256 - IP Total


Jawaban

Versi 2 :


Perhitungan

HRD :

20 host + 1 + 2 = 23 ==> Di Jadikan Biner 10111 = 5 (jumlah digit dari bilangan biner yang kita cari)

Subnet Mask = 11111111. 11111111. 11111111. 11100000

= 255. 255. 255. 224 --> Biner

= 8. 8. 8. 3 = 27 --> Desimal (Subnet Mask)

IP Total = 25 = 32


FINANCE :

15 host + 1 + 2 = 18 ==> Di Jadikan Biner 10010 = 5

Subnet Mask = 11111111. 11111111. 11111111. 11100000

= 255. 255. 255. 224 --> Biner

= 8. 8. 8. 3 = 27 --> Desimal

IP Total = 25 = 32


IT :

12 host + 1 + 2 = 15 ==> Di Jadikan Biner 1111 = 4

Subnet Mask = 11111111. 11111111. 11111111. 11110000

= 255. 255. 255. 240 --> Biner

= 8. 8. 8. 4 = 28 --> Desimal

IP Total = 24 = 16


MARKETING :

25 host + 1 + 2 = 28 ==> Di Jadikan Biner 11100 = 5

Subnet Mask = 11111111. 11111111. 11111111. 11100000

= 255. 255. 255. 224 --> Biner

= 8. 8. 8. 3 = 27 --> Desimal

IP Total = 25 = 32

Selasa, 21 Desember 2010

Tugas Soft Skill Pert 3

Strategy of Information Integration (SII)

Seiring dengan berjalannya waktu, pesaingan bisnis antar perusahaan semakin ketat. Persaingan dalam bidang bisnis ini memaksa mereka harus menata ulang keuangannya. Jika tidak ingin kalah bersaing, maka mereka harus memiliki strategi untuk menguatkan bisnis yang sedang mereka jalani dengan cara berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan lainnya.

SII merupakan suatu strategi yang digunakan untuk mengatasi permasalahan (trouble) yang pada umumnya dialami oleh perusahaan dengan cara menciptakan strategi yang bertujuan untuk mengintegrasikan / menggabungkan informasi antar perusahaan. SII dirasakan perlu untuk menyelesaikan integrasi sistem yang tidak berhasil, ada enam tahap pelaksanaan integrasi, antara lain :

1. Eksploitasi Kapabilitas Lokal

2. Lakukan Integrasi Tak Tampak

3. Kehendak Berbagi Pakai

4. Redesain Arsitektur Proses

5. Optimalkan Infrastruktur

6. Transformasi Organisasi

Tahap-tahap tersebut digunakan untuk menjaga keseimbangan antara mitra merger dalam mengintegrasikan sistem informasi yang dimiliki serta untuk mencairkan suasana ketegangan dalam politis yang seringkali mencampuri dalam penggabungan sistem informasi. Berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai tahap-tahap tersebut.


Eksploitasi Kapabilitas Lokal

Pada tahap pertama ini, yang perlu dilaksanakan adalah melakukan pengembangan semaksimal mungkin terhadap kemampuan manajemen sistem informasi dari tiap perusahaan ataupun suatu organisasi. Tujuan dari fase ini yaitu memahami secara intensif batasan maksimal tentang kemampuan manajemen sistem informasi suatu perusahaan ataupun organisasi dalam menghasilkan kebutuhan manajemen strategis.

Adanya tahap ini juga bermanfaat bagi mereka yang selama ini belum tahu benar mengenai karakteristik dan spesifikasi sistem informasi yang dimiliki untuk dapat lebih mengerti kapabilitas kemampuan sistem yang sebenarnya.


Soft Integration

Pada tahap ini, berarti masing-masing perusahaan ataupun suatu organisasi melakukan diskusi bersama dalam mencari jalan keluar terhadap pemenuhan kebutuhan yang ada. Secara tidak langsung, dalam proses ini, blueprint arsitektur masing-masing sistem informasi saling diperkenalkan dan dipertukarkan.

Setiap kerjasama atau kolaborasi dua atau lebih organisasi kerap mendatangkan kebutuhan baru. Dan ketika kebutuhan bersama ini muncul, seringkali tidak dapat dipenuhi oleh sebuah sistem informasi yang dimiliki salah satu anggota konsorsium. Karena Tahap I yaitu kajian kapabilitas sudah dilakukan, tidak akan ada satu organisasi pun yang berani ”berbohong” atau ”membual” bahwa hanya sistem informasinyalah yang dapat menyediakan kebutuhan kerjasama konsorsium.

Dari rangkaian kegiatan tersebut, maka yang biasa dihasilkan adalah ide-ide ataupun solusi dalam bentuk penambahan sejumlah objek ataupun komponen sebagai jembatan antara satu sistem dengan sistem lainnya tanpa harus merusak masing-masing sistem informasi yang telah dianggap baik bekerja oleh setiap perusahaan ataupun organisasi yang ada.



Membagi Sumber Daya Organisasi

Ketika skenario pada tahap kedua telah berjalan dengan baik (baca: efektif), langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi seberapa efisien dan optimum solusi tersebut berhasil dibangun terutama dalam kaitannya dengan pemanfaatan beraneka ragam sumber daya organisasi. Tentu saja efisiensi dan optimalisasi tertinggi belum terlihat dalam solusi tersebut karena dibangun dengan paradigma ”tidak mengganggu” masing-masing sistem informasi. Sekali lagi para CIO akan berkumpul dan melihat bahwa banyak peluang untuk meningkatkan kinerja solusi yang dihasilkan jika dan hanya jika adanya ”sharing” atau pola berbagi pakai antar sumber daya teknologi informasi yang dimiliki masing-masing organisasi.

Dalam konteks inilah mulai terlihat adanya tawaran untuk misalnya menggunakan server dari organisasi A, aplikasi dari organisasi B, database dari organisasi C, jaringan dari organisasi D, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi sebagai dampak kehendak untuk mencari solusi yang terbaik, sehingga seluruh CIO merasa tertantang intelejensianya dalam menghasilkan sistem yang dimaksud. Keluaran terpenting dari tahap ini adalah mulai bergesernya pemikiran-pemikiran yang didominasi oleh faktor emosional ke ide-ide brilian yang dipandu oleh pemikiran rasional.


Desain Ulang Arsitektur Organisasi

Pada tahap ini, berarti melakukan pengujian kembali terhadap integrasi, karena yang akan terlibat tidak sekedar para CIO, melainkan pimpinan nomor satu dari masing-masing organisasi. Kegiatan kolaborasi ini akan efektif jika bermula dari akhir, dalam arti kata menggunakan kebutuhan pemegang kepentingan akhir (yaitu pelanggan atau publik) sebagai target solusi redesain. Dengan berpegang pada konsep dan teori BPR (= Business Process Reengineering) sejumlah usaha untuk melakukan eliminasi, simplifikasi, integrasi, dan otomatisasi proses akan dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah semangat kolaborasi antar CIO yang harus ditularkan ke para pimpinan organisasi.

Biasanya yang dilakukan adalah para CIO melakukan kajian terlebih dahulu, dan mendesain arsitektur proses baru (baca: tentatif) yang dipresentasikan kepada para pimpinan dengan sebuah pesan penting yaitu desain terkait dapat dan mungkin diterapkan oleh beragam organisasi tersebut. Keluaran dari tahap terberat ini adalah kesepakatan untuk melakukan kolaborasi secara lebih jauh, yaitu dengan memperhatikan nilai (atau value) dari pemegang kepentingan utama dari seluruh organisasi yang berkolaborasi. Ragam proses baru inilah yang akan menjadi cikal bakal atau embrio arsitektur sebuah sistem informasi terintegrasi yang dimaksud, yang merupakan penjelmaan ”secara tidak sadar” kumpulan sistem informasi organisasi beragam yang ada.


Optimisasi Infrastruktur

Pada tahap ini, berarti melakukan optimisasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan ataupun organisasi dengan ruang lingkup yaitu memonitoring kinerja masing-masing sistem informasi untuk melayani organisasi yang ada secara vertikal.

Keluaran dari tahap ini adalah mengoptimalkan sebuah sistem informasi terpadu yang dapat bekerja secara efektif dalam melayani kepentingan vertikal maupun horisontal. Serta dapat mempererat relasi antar perusahaan ataupun organisas




Transformasi Organisasi

Pada Tahap terakhir ini, berarti melakukan transformasi (perubahan) terhadap masing-masing organisasi. Perubahan yang dimaksud pada dasarnya merupakan akibat dari dinamika kebutuhan lingkungan eksternal organisasi yang memaksanya untuk menciptakan sebuah sistem organisasi yang adaptif terhadap perubahan apapun.

Sistem informasi masa kini yang dibangun dengan menggunakan paradigma rumah tumbuh dan berbasis komponen (baca: object-based approach) secara tidak langsung akan menular kepada karakteristik dari organisasi terkait. Artinya, sejumlah hal baru akan tumbuh menggantikan sesuatu yang telah lama dianut, misalnya:

· Perubahan dari organisasi berbasis struktur dan fungsi menjadi organisasi berbasis proses;

· Perubahan dari organisasi berbasis sumber daya fisik menjadi organisasi berbasis pengetahuan;

· Perubahan dari organisasi berbasis kebutuhan pemilik kepentingan internal menjadi organisasi berbasis kebutuhan pemilik kepentingan eksternal;

· Perubahan dari organisasi berbasis rantai nilai fisik menjadi organisasi berbasi rantai nilai virtual; dan lain sebagainya.


Sumber :

http://mrzie3r.wordpress.com/2007/04/19/merancang-strategi-sistem-informasi
http://www.batan.go.id/sjk/eII2006/Page02/P02h.pdf
http://ty000.wordpress.com/2009/12/07/integrasi-sistem-informasi